Minggu, 17 April 2016

ALVI HADI SUGONDO " MERASA BENAR ITU SALAH, DAN MERASA SALAH ITU BENAR … MANA YANG LEBIH BAIK?"



Alvi Hadi Sugondo berkata, benar dan salah itu sebenarnya persepsi. Sepanjang kebenaran itu bukan berasal dari kitab suci, semuanya bersifat relatif. Ironisnya, kebanyakan kita terjebak dalam perdebatan yang bersifat relatif, hingga sulit mendapatkan kebenaran yang prinsip.
 
Alvi Hadi Sugondo menambahkan, Jika ada pasangan berdebat tentang suatu pendapat, mereka hanya terjebak dalam lingkaran pendapat yang cenderung kurang sehat. Pada ujungnya adalah terjebak dalam emosi yang saling sikat, akibat beda pendapat.

Menurut Alvi Hadi Sugondo, Perbedaan adalah persamaan yang tertunda. Sepanjang persepsi belum teruji dalam proses komunikasi, maka perbedaan akan selalu bermunculan. Itulah kebenaran subjektif banyak orang, sumber permasalahan dan pertengkaran.

Dari satu sisi, kebenaran subjektif  itu sangat nyata dan memiliki nilai benar dimata orang yang bersangkutan, namun jadi salah jika dimata orang lain. Demikian sebaliknya, kebenaran subjektif orang lain, bisa jadi sesuatu yang salah dimata kita sendiri.

"Benar salah dalam skema kebenaran subjektif adalah kebenaran yang relatif. Jadi, alangkah baiknya kita hentikan kata benar salah disini. Karena semua jenis kebenaran tersebut tak akan pernah ada titik temu, jadi sebaiknya jangan dibahas secara panjang kali lebar, nanti hasilnya sama dengan perdebatan yang berakhir pada pertengkaran" ujar Alvi Hadi Sugondo

Bagaimana solusi untuk menghadapi kebenaran relatif ini? 



Sebenarnya sangat sederhana. Kebenaran relatif itu seperti selera warna. Kita suka warna merah, sementara yang lain ada yang suka warna biru, ungu, hijau dan bahkan kuning. Semua adalah selera masing-masing.

Pun dengan kebenaran relatif  atau subjektif. Jadikan kebenaran tersebut sebagai kebenaran yang melekat pada individu masing-masing dan biarkan mereka berpegang pada kebenaran mereka itu. Tak ada yang salah dalam hal memegang kebenaran subjektif.

Yang menjadi kesalahan jika kita memaksakan perbedaan ke dalam kebenaran pribadi. Contoh, kita meyakini bahwa ilmu marketing itu soal bagaimana menguasai pasar. Sementara teman kita berbeda pendapat, ilmu marketing itu ilmu yang mempelajari tentang strategi penjualan.

Ini sama seperti kisah tiga orang buta yang sama-sama memiliki pengalaman memegang kuda. Orang buta pertama memegang kepala kuda dan bercerita bahwa kuda itu berbentuk panjang, ada rambutnya, berhidung besar serta memiliki gigi yang kuat. Sementara orang buta kedua kebetulan memegang ekornya hingga ia menggambarkan kuda seperti ular, dan yang ketiga memegang perutnya hingga kuda seperti manusia.

"Apa yang dikatakan ketiga orang buta itu semuanya ada benarnya, karena mereka sudah memiliki pengalaman memegang kuda, namun menjadi kesalahan jika ia menggambarkan kuda dari satu bagian saja" ujar Alvi Hadi Sugondo

Itulah ilustrasi kebenaran subjektif yang sedang kita bahas ini. Jadi solusi untuk mengadapi perbedaan pendapat tentang kebenaran subjektif ini adalah membiarkan pendapat orang tersebut sebagai kebenaran yang subjektif tanpa harus kita perdebatkan atau tentang sambil kita belajar dari mereka tentang kebenaran yang selama ini kita yakini sebagai penyempurna. 

Jadi, kata mutiara “ Merasa salah itu benar dan merasa benar itu salah” setididaknya ada benarnya dan juga ada salahnya juga. Yang terpenting bukan benar salah, tapi apakah kita bisa menjadikan perbedaan itu sebagai proses menuju persamaan, dan untuk menuju ke titik itu diperlukan waktu yang lebih lama lagi agart kebenaran hakiki menjadi lebih matang. 

Akhir kata, teruslah belajar mendalami makna kehidupan. Karena kita tak akan pernah tahu, sebaik apa kualitas kehidupan kita di masa akan datang jika berpuas diri belajar disaat ini. 

Jadi, jangan sikapi hidup ini dengan merasa benar atau salah , tapi gantilah dengan semua akan terungkap dalam proses waktu dimasa depan. Selamat menyelami kebenaran subjektif kita masing-masing, dan selalu hargai kebenaran subjektif orang lain. Bersama kita bisa.


http://karyapratama.co.id

0 komentar:

Posting Komentar