Alvi Hadi Sugondo berkata, benar dan salah itu sebenarnya persepsi. Sepanjang kebenaran
itu bukan berasal dari kitab suci, semuanya bersifat relatif. Ironisnya,
kebanyakan kita terjebak dalam perdebatan yang bersifat relatif, hingga sulit
mendapatkan kebenaran yang prinsip.
Alvi Hadi Sugondo menambahkan, Jika ada pasangan berdebat tentang suatu pendapat, mereka
hanya terjebak dalam lingkaran pendapat yang cenderung kurang sehat. Pada
ujungnya adalah terjebak dalam emosi yang saling sikat, akibat beda pendapat.
Menurut Alvi Hadi Sugondo, Perbedaan adalah persamaan
yang tertunda.
Sepanjang persepsi belum teruji dalam proses komunikasi, maka perbedaan akan
selalu bermunculan. Itulah kebenaran subjektif banyak orang, sumber
permasalahan dan pertengkaran.
Dari satu sisi, kebenaran subjektif itu sangat nyata dan memiliki nilai benar
dimata orang yang bersangkutan, namun jadi salah jika dimata orang lain.
Demikian sebaliknya, kebenaran subjektif orang lain, bisa jadi sesuatu yang
salah dimata kita sendiri.
"Benar salah dalam skema kebenaran subjektif adalah kebenaran
yang relatif. Jadi, alangkah baiknya kita hentikan kata benar salah disini.
Karena semua jenis kebenaran tersebut tak akan pernah ada titik temu, jadi
sebaiknya jangan dibahas secara panjang kali lebar, nanti hasilnya sama dengan
perdebatan yang berakhir pada pertengkaran" ujar Alvi Hadi Sugondo
Bagaimana solusi untuk menghadapi kebenaran relatif ini?
Sebenarnya sangat sederhana. Kebenaran relatif itu seperti
selera warna. Kita suka warna merah, sementara yang lain ada yang suka warna
biru, ungu, hijau dan bahkan kuning. Semua adalah selera masing-masing.
Pun dengan kebenaran relatif atau subjektif. Jadikan kebenaran tersebut
sebagai kebenaran yang melekat pada individu masing-masing dan biarkan mereka
berpegang pada kebenaran mereka itu. Tak ada yang salah dalam hal memegang
kebenaran subjektif.
Yang menjadi kesalahan jika kita memaksakan perbedaan ke dalam
kebenaran pribadi. Contoh, kita meyakini bahwa ilmu marketing itu soal
bagaimana menguasai pasar. Sementara teman kita berbeda pendapat, ilmu
marketing itu ilmu yang mempelajari tentang strategi penjualan.
Ini sama seperti kisah tiga orang buta yang sama-sama
memiliki pengalaman memegang kuda. Orang buta pertama memegang kepala kuda dan
bercerita bahwa kuda itu berbentuk panjang, ada rambutnya, berhidung besar
serta memiliki gigi yang kuat. Sementara orang buta kedua kebetulan memegang
ekornya hingga ia menggambarkan kuda seperti ular, dan yang ketiga memegang
perutnya hingga kuda seperti manusia.
"Apa yang dikatakan ketiga orang buta itu semuanya ada
benarnya, karena mereka sudah memiliki pengalaman memegang kuda, namun menjadi
kesalahan jika ia menggambarkan kuda dari satu bagian saja" ujar Alvi Hadi Sugondo
Itulah ilustrasi kebenaran subjektif yang sedang kita bahas
ini. Jadi solusi untuk mengadapi perbedaan pendapat tentang kebenaran subjektif
ini adalah membiarkan pendapat orang tersebut sebagai kebenaran yang subjektif
tanpa harus kita perdebatkan atau tentang sambil kita belajar dari mereka
tentang kebenaran yang selama ini kita yakini sebagai penyempurna.
Jadi, kata mutiara “ Merasa
salah itu benar dan merasa benar itu salah” setididaknya ada benarnya dan
juga ada salahnya juga. Yang terpenting bukan benar salah, tapi apakah kita
bisa menjadikan perbedaan itu sebagai proses menuju persamaan, dan untuk menuju
ke titik itu diperlukan waktu yang lebih lama lagi agart kebenaran hakiki
menjadi lebih matang.
Akhir kata, teruslah belajar mendalami makna kehidupan.
Karena kita tak akan pernah tahu, sebaik apa kualitas kehidupan kita di masa
akan datang jika berpuas diri belajar disaat ini.
Jadi, jangan sikapi hidup ini
dengan merasa benar atau salah , tapi gantilah dengan semua akan terungkap
dalam proses waktu dimasa depan. Selamat menyelami kebenaran subjektif kita
masing-masing, dan selalu hargai kebenaran subjektif orang lain. Bersama kita
bisa.









0 komentar:
Posting Komentar